hmmmmmm…..

January 5, 2011

Lampu baru aja padam. Aktifitas kantor terpaksa terhenti. Tidak ada genset untuk jadi sandaran. Akibatnya pada luntang lantung. Tidak ada kerjaan.

Sekitar satu jam lampu menyala,  aktifitas berjalan lagi. Alhamdulilah. Berganti posisi meja, dari laptop ke pc. PC ku dulu, yang tuts keyboard huruf P nya agak bermasalah :D , haiya.. sekarang malah jadi server. Di kantor sedang di bangun sistem baru, CRM ( Customer Relatinship Management ). Program yang dapat memantau kerjaan semua bagian. Tetapi saat ini baru bagian penjualan dan admin yang jalan. Karena memang bagian itu adalah Nyawa dari Perusahaan.

Tenggelam dengan Mozilla, searching sana, searching sini. Semuanya tidak ada yang berarti. Kemudian mencoba mencari sesuatu di google.com, weleh sedikit narsis..mengetikkan nama dila…. weiiiiiiii hasilnya bukan namaku :P , belum puas, tetap mencari. Eit..ketemu juga noteofdila.wordpress.com. waduh blog baru yang juga menjadi sampah… :)

Baca di dalam blog sendiri. Tersadar, bahwa ternyata aku pinter juga ya.. heehhehee… tetapi ya itu Malas. Tetap nomor satu…. weksssssss…

Disebelah ada murid kids, namanya vito. kerjaannya maen game sebelum les di mulai. Begitu tau laptoku kosong, dia langsung pake. Vito masih anak sd kelas satu, tetapi gayanya ya masih tetep kelas satu, walau di pinter maen game.

Aku melirik ke vito, asyik dia dengan gamenya. Padahal gamenya masih dalam proses loading… Vito vito… anak kelas satu sd. Aku melihat ke diri sendiri.. how come?? kan tidak ada cermin .. ? Kayaknya aku sama dengan Vito. Kerjaannya maen terus. Ikut les terus. Tanpa tau tujuannya apa apa. Yang penting di suruh mama les, ya les… enak lagi di tempat les bisa maen game.

Dulu aku seperti vito, waktu kelas satu sd. Masa sekarang jadi kayak vito lagi??? Nggak mau akh.. so kalo nggak mau ya sudah jangan Malas. Tetap semangat.

menunggu keajaiban

Team……….

October 9, 2009

saya pernah menulis tema tentang membangun sebuah team.
tetapi tulisan tersebut tidak selesai. :D

dan kali ini saya terkena sesuatu yang akhirnya membuat saya
sadar bahwa tidak mudah membangun sebuah team yang solid.

baru beberapa hari, salah satu team kami sempat lalai dengan yang
namanya komitmen, tetapi dia tetap bertanggung jawab. Lho?
sebut saja di xx, dia sudah berkomitmen untuk menjalankan tugasnya
bertemu dengan klient setiap hari senin, tetapi beberapa bulan
terakhir xx selalu menggantinya dengan hari lain. dilihat dari
rasa tanggung jawab, jelas dia sangat bertanggung jawab karena
tidak menelantarkan si klient. tetapi sayangnya dia lupa dengan
komitmen awal untuk bertemu dengan si klient setiap hari senin.

Si klient memang belum pernah komplain secara terang-terangan,
hanya ada beberapa sms yang masuk ke inbox saya, yang intinya
dia tidak mengerti mengapa xx selalu mengganti jadwal pertemuan
yang sudah disepakati sebelumnya.

puih… saya mencoba membicarakan hal tersebut dengan supervisor xx,
sayangnya sang supervisor juga belum mengerti tentang arti sebuah
komitmen. menurut sang supervisor xx sudah bertanggung jawab. Dan
butuh waktu lama untuk bertukar pikiran dengan sang supervisor.

selesai bertukar pikiran dengan sang supervisor, saya berpikir lama.
ini adalah kesalahan saya sendiri, karena belum bisa membangun team
yang solid.
saya menarik nafas panjang, menjernihkan pikiran, agar bisa berpikir
lateral. Berpikir dari cara pandang saya, berpikir dari cara pandang
sang supervisor, dan berpikir dari cara pandang xx. mencari satu
titik temu, agar saya, sang supervisor dan xx bisa mengerti, bahwa
membangun sebuah team tidak hanya sekedar menjalankan kewajiban yang
dibungkus dengan rasa tanggung jawab saja, tapi harus dibarengi dengan
yang namanya komitmen.

Saya tahu itu tidak mudah. tapi saya rasa itu bisa dirubah.
kalau saya bisa berubah, maka team saya juga bisa.

saya tersenyum dalam hati, ini adalah kisah yang harus saya lewati,
dan dengan kisah ini saya bisa mengisi blog saya yang sudah lama
tidak terisi.

oktober,2009

SIBUK ….. …. ….

June 23, 2009

waduh… niat untuk fokus mengisi blog ternyata tidak segampang yang dipikirkan. Benar-benar luar biasa godaannya. Alasan yang paling gampang “SIBUK!”… Malu pada diri sendiri, ketika membaca tulisan-tulisan yang dibuat sendiri.

Mulai dari cerita tentang soal pekerjaan, sampai bicara soal ijasah dan keahlian.

Padahal diri sendiri juga belum betul :D Ya tapi tidak salah juga kan, kalau menulis apa yang dipikirkan, karena ternyata katanya orang-orang nih, budaya menulis tidak sedasyat muda-mudi yang mau jadi pemain band :) ) menyempatkan diri di tengah kesibukan yang memang sudah menjadi rutinitas ternyata bisa membuat pikiran jadi segar :) mencoba memainkan jemari di keyboard komputer yang setiap menekan huruf p harus dengan penuh tenaga, karena tutsnya rada eror sejak beli pertama kali, e..alah nasib :( tulis sana, tulis sini.. ternyata memang saya tidak SIBUK… tapi MALAS. weks…penyakit lama yang memang belum sembuh benar. Seperti alergi, yang kadang muncul kadang sembuh.Tapi kok ya banyak munculnya ya…:D yang penting tetap berusaha untuk selalu konsisten, memecut diri sendiri.

kata abang, jadikan hidup ini seperti sedang main game. Lha wong kalau main game nintendo bisa sampai 2 jam :) ) jadi sebenarnya saya tidak SIBUK… :) karena sebenarnya saya sedang menjalani “GAME” hidup saya sendiri.

Doakan saya menang ya, karena masih banyak musuh dan rintangan yang harus dihadapi..

Go..dila…Go..

di tengah ke”SIBUKAN” :)

sebelum pulang kantor…

aldila

Ijasah vs Keahlian

April 23, 2009

Setiap pagi, ketika baru datang dari kantor.
Hal pertama yang saya lakukan adalah mengecek e-mail.
dan pagi ini saya menerima e-mail dari seorang kawan penulis
namanya mas Jonru, sebagian teman-teman mungkin tahu
siapa mas Jonru :)

Dalam emailnya dia menulis soal krisis global dengan dunia penulisan
yang dia geluti. Diceritakan ada seorang yang berhasil menjadi kaya
dengan menggeluti dunia penulisan, dan hal yang sama pernah dilakukan
oleh mas Jonru. Dia keluar kerja, mengasah ketrampilan menulisnya.
Dan sekarang dia menjadi penulis hebat. Lho hubungannya dengan krisis global??
Mas Jonru mengingatkan, dengan krisis global saat ini, banyak yang di PHK,
banyak pengangguran, tetapi tidak punya keahlian apa-apa..lalu bagaimana
bertahan hidup. Karena mas Jonru bergerak di dunia penulisan, dia mengajak
semuanya untuk mengasah keahlian di bidang penulisan, sehingga kita tidak
tergantung dengan yang namanya ijasah. dan tidak peduli mau di phk atau tidak :D

Akh. saya jadi ingat jaman waktu saya SMA dulu. Melihat kakak saya yang
sebentar lagi mau menikah, tetapi bingung, karena calon suaminya belum
punya kerjaan. Kalau dilihat, calon suami kakak saya itu punya keahlian
banyak sekali, main gitar bisa, mancing dia suka, dan dia senang ngutak-ngatik
barang-barang elektronik. Waktu itu saya sempat berpikir, kenapa dia nggak
buka bengkel elektronik aja ya???

Meliha fenomena itu, kemudian terjadi mind set di pikiran saya, kalau saya
cari suami, saya harus mencari suami yang punya keahlian. Karena kunci untuk
bertahan hidup adalah “KEAHLIAN”, itu pikiran saya.

Selain itu, saya juga terus mengasah keahlian yang saya punya.
Mulailah saya ikut les sana-sini dalam rangka menemukan JATI DIRI :) )
Les jahit, les musik, les karate, sampai coba-coba belajar masak, buat kue,
sampe akhirnya jualan kue :D .

Selain itu, coba-coba menulis, ikutan lomba penulisan sana-sini. Banyak yang dikirim,
banyak juga yang ditolak :D . Tetapi tidak putus asa lah. namanya juga usaha,
Senang juga sekali waktu bisa mewakili kampus, masuk menjadi 10 besar untuk
penulisan kampus tingkat nasional walau tidak menang :D . Diberi ucapan selamat
selama seminggu oleh teman-teman kampus, dosen sampai penjaga parkir yang kenal dengan
saya :) .Berhasil masuk di Kangguru Magazine, buat artikel di Sony Ericsson buletin.
Akh seperti mengenang masa kejayaan…dan saya yakin teman-teman juga pernah mengalami
hal yang sama dengan saya. Dulu pernah juara tari, pernah juara lomba band, juara menyanyi
dan sebagainya.

Dan pagi ini saya tersadar, itu semua adalah keahlian. Yang sekarang kita lupakan.
Sekarang ini kita malah sibuk dengan pekerjaan kita, atau ada teman-teman yang
lagi sibuk cari kantor baru karena bosan dikantor yang sekarang. Padahal dulunya
teman-teman juara menulis puisi, menyanyi, karate, band, dan sebagainya. Atau malah
ada yang jago buat kue, jago masak. Jago buat jamu dan sebagainya.

Keahlian kita hilang, karena tuntutan mendapatkan ijasah. Sebuah kertas, yang kalau
kena api akan hangus, yang kena air akan basah, yang kena angin akan hilang entah kemana.
Sebuah kertas yang kita anggap berharga. Kita simpan di map, dan dimasukkan ke dalam lemari.
Sebuah kertas yang kalau itu hilang atau rusak, kita akan menangis meraung-raung, karena
di depan mata terbayang akan susah kita mencari kerja. Ijasah adalah sebuah kertas!!!

Sedangkan kita tidak pernah bingung karena keahlian kita yang sudah hilang
Kita tidak pernah takut, karena keahlian kita yang tidak pernah terasah.
Padahal, harta yang sesungguhnya adalah “KEAHLIAN” bukan sebuah kertas
yang diberi nama “IJASAH”

Saya bersyukur, akhirnya saya mendapatkan suami yang mempunyai KEAHLIAN, dan dengan
keahliannya ALLAH Ridho memberikan dia jalan untuk menafkahi saya dan anak saya.
Saya bersyukur, saya kenal mas Jonru. Yang darinya, saya membuka kembali memori
“Jaman Kejayaaan” yang pernah saya alami.
Sekali lagi, saya bersyukur. saya berada di lingkungan orang-orang yang mempunyai
keahlian, dan dari mereka saya belajar untuk terus mengasah keahlian saya sendiri.

Dan hari ini, saya ingin membaginya dengan teman-teman. Mencoba merenung, menemukan
kembali “KEAHLIAN” yang pernah teman-teman punya. Menjadikannya sebagai sandaran hidup.
Karena KEAHLIAN datangnya dari Allah. Bersyukurlah…sekecil apapun itu.
Sehingga ketika kita sudah menemukan keahlian kita, kita tidak perlu lagi was-was kalau
ijasah kita akan hilang :) , karena ijasah bukan diri kita, ijasah adalah sebuah kertas.

pagi yang indah,
aldila

masalah untuk semua

April 3, 2009

hal pertama yang akan ditanya orang ketika bertemu
dengan seseorang yang baru lulus kuliah atau sekolah
adalah “sudah bekerja di mana?”

untuk sebagian orang, menjawab pertanyaan ini sangatlah
mudah. Jelas, karena dia sudah diterima bekerja menjadi PNS,
atau bekerja di salah satu perusahaan swasta yang terbesar.

untuk sebagian yang lain, akan bungkam seribu bahasa. Jelas!
karena sampai detik ini belum ada panggilan kerja dari mana-mana. Hidup rasanya susah dan merana.

diantara kumpulan orang yang sudah bekerja dan tidak bekerja,
ada kumpulan orang-orang yang dianggap “tidak bekerja” tetapi
juga dianggap “bukan pengangguran”. Ya, mereka adalah orang-orang yang memantapkan diri untuk membuka usaha sendiri.

entah benar atau tidak, karena saya juga tidak melakukan
survey. Orang tua akan menganggap anaknya belum bekerja ketika anak tersebut memulai usaha sendiri. Terlebih, ketika usaha awal itu belum untung, tidak mempunyai penghasilan tetap, malah sering hutang sana, hutang sini, dikejar debt colector, dikejar berbagai tagihan. Waduh, malah orang tua akan prihatin sekali.

Yang menarik adalah, para orang tua tidak memberikan motivasi tetapi malah memberikan comment, “sudahlah, kerja saja, enak. dapet penghasilan tetap… bla..bla..bla…”

Karena penasaran, saya akhirnya melakukan pengamatan “pola hidup” dari setiap saudara dan kawan yang terdiri dari berbagai profesi. Hasilnya!!… Luar biasa, semua mempunyai masalahnya sendiri.

Adalah teman saya si A yang sudah mempunyai kedudukan di sebuah perusahaan, dengan gaji 10 juta / bulan. Toh ternyata dia juga bermasalah dengan gajinya, dengan hutang kartu kreditnya yang di pake untuk belanja, dan tidak habis-habis walau sudah di cicil dengan pembayaran teratur setiap bulan. Dia juga kadang bermasalah dengan karirnya, yang harus sikut sana sikut sini.

Atau si B, yang sudah menjadi PNS, harus rela mendapat gajinya di potong tiap bulan karena bulan yang lalu mendapat kesempatan mendapat pinjaman uang 40 juta. Dan uangnya dia belikan mobil second seharga 35 juta. Sisanya dipake untuk jalan-jalan dg mobil baru ke rumah mertua dan membelikan oleh-oleh.

Atau si C, yang baru mulai usaha, harus rela menghabiskan limit
kartu kreditnya untuk modal, karena tidak ada yang bisa memberikan modal. usaha belum lancar, sudah dimusuhi sana-sini, dianggap gila karena sudah meninggalkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan. Dianggap terlalu berani karena tidak punya dasar usaha.

Atau si D, yang mengambil keputusan untuk menjadi tenaga freelance,tau sendiri kan freelance, kadang dapet job kadang nggak??? padahal makan harus tiap hari, bayar uang sekolah anak tiap bulan, belum lagi tagihan air,listrik, telepon, atau tagihan rt/rw,belum lagi buat jalan-jalan…..

Atau si E, yang sudah enak-enak kerja malah nyambi ikutan MLM. Dengan dalih gaji kurang, MLM prospek yang bagus, ini dan itu. bonus yang lumayan, ujung-ujungnya juga keluhan, karena tidak gampang mencari downline. sore yang harusnya untuk istirahat, malah dipake untuk prospek calon downline yang belum tentu ikutan, padahal prospek sampai jam 11 malam.

Puih…. ternyata e ternyata.. semua orang yang telah memilih
jalannya menemukan masalah-masalahnya sendiri.
Kemudian muncul dibenak saya, “mengapa kita semua tidak bisa
menghormati jalan hidup orang lain???”

dan pertanyaan lain muncul..”kerja itu untuk cari uang?? atau
uang yang katanya kerja untuk kita?? atau kerja bukan untuk cari uang???”

at noon,
3 april 2009
on my desk.

Hello world!

April 3, 2009

Welcome on my wordpress.com,

segala hal yang akan dibaca di site ini, mungkin pernah terpikirkan oleh anda, pernah terjadi, atau tidak pernah terpikir sama sekali di benak anda.

Hidup adalah keajaiban, dan setiap orang yang percaya akan selalu merasakan keajaiban setiap harinya.

Take your time to refresh and charge your mind..

wassalam,

my nick aldila rahmah


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.