Setiap pagi, ketika baru datang dari kantor.
Hal pertama yang saya lakukan adalah mengecek e-mail.
dan pagi ini saya menerima e-mail dari seorang kawan penulis
namanya mas Jonru, sebagian teman-teman mungkin tahu
siapa mas Jonru
Dalam emailnya dia menulis soal krisis global dengan dunia penulisan
yang dia geluti. Diceritakan ada seorang yang berhasil menjadi kaya
dengan menggeluti dunia penulisan, dan hal yang sama pernah dilakukan
oleh mas Jonru. Dia keluar kerja, mengasah ketrampilan menulisnya.
Dan sekarang dia menjadi penulis hebat. Lho hubungannya dengan krisis global??
Mas Jonru mengingatkan, dengan krisis global saat ini, banyak yang di PHK,
banyak pengangguran, tetapi tidak punya keahlian apa-apa..lalu bagaimana
bertahan hidup. Karena mas Jonru bergerak di dunia penulisan, dia mengajak
semuanya untuk mengasah keahlian di bidang penulisan, sehingga kita tidak
tergantung dengan yang namanya ijasah. dan tidak peduli mau di phk atau tidak
Akh. saya jadi ingat jaman waktu saya SMA dulu. Melihat kakak saya yang
sebentar lagi mau menikah, tetapi bingung, karena calon suaminya belum
punya kerjaan. Kalau dilihat, calon suami kakak saya itu punya keahlian
banyak sekali, main gitar bisa, mancing dia suka, dan dia senang ngutak-ngatik
barang-barang elektronik. Waktu itu saya sempat berpikir, kenapa dia nggak
buka bengkel elektronik aja ya???
Meliha fenomena itu, kemudian terjadi mind set di pikiran saya, kalau saya
cari suami, saya harus mencari suami yang punya keahlian. Karena kunci untuk
bertahan hidup adalah “KEAHLIAN”, itu pikiran saya.
Selain itu, saya juga terus mengasah keahlian yang saya punya.
Mulailah saya ikut les sana-sini dalam rangka menemukan JATI DIRI
)
Les jahit, les musik, les karate, sampai coba-coba belajar masak, buat kue,
sampe akhirnya jualan kue
.
Selain itu, coba-coba menulis, ikutan lomba penulisan sana-sini. Banyak yang dikirim,
banyak juga yang ditolak
. Tetapi tidak putus asa lah. namanya juga usaha,
Senang juga sekali waktu bisa mewakili kampus, masuk menjadi 10 besar untuk
penulisan kampus tingkat nasional walau tidak menang
. Diberi ucapan selamat
selama seminggu oleh teman-teman kampus, dosen sampai penjaga parkir yang kenal dengan
saya
.Berhasil masuk di Kangguru Magazine, buat artikel di Sony Ericsson buletin.
Akh seperti mengenang masa kejayaan…dan saya yakin teman-teman juga pernah mengalami
hal yang sama dengan saya. Dulu pernah juara tari, pernah juara lomba band, juara menyanyi
dan sebagainya.
Dan pagi ini saya tersadar, itu semua adalah keahlian. Yang sekarang kita lupakan.
Sekarang ini kita malah sibuk dengan pekerjaan kita, atau ada teman-teman yang
lagi sibuk cari kantor baru karena bosan dikantor yang sekarang. Padahal dulunya
teman-teman juara menulis puisi, menyanyi, karate, band, dan sebagainya. Atau malah
ada yang jago buat kue, jago masak. Jago buat jamu dan sebagainya.
Keahlian kita hilang, karena tuntutan mendapatkan ijasah. Sebuah kertas, yang kalau
kena api akan hangus, yang kena air akan basah, yang kena angin akan hilang entah kemana.
Sebuah kertas yang kita anggap berharga. Kita simpan di map, dan dimasukkan ke dalam lemari.
Sebuah kertas yang kalau itu hilang atau rusak, kita akan menangis meraung-raung, karena
di depan mata terbayang akan susah kita mencari kerja. Ijasah adalah sebuah kertas!!!
Sedangkan kita tidak pernah bingung karena keahlian kita yang sudah hilang
Kita tidak pernah takut, karena keahlian kita yang tidak pernah terasah.
Padahal, harta yang sesungguhnya adalah “KEAHLIAN” bukan sebuah kertas
yang diberi nama “IJASAH”
Saya bersyukur, akhirnya saya mendapatkan suami yang mempunyai KEAHLIAN, dan dengan
keahliannya ALLAH Ridho memberikan dia jalan untuk menafkahi saya dan anak saya.
Saya bersyukur, saya kenal mas Jonru. Yang darinya, saya membuka kembali memori
“Jaman Kejayaaan” yang pernah saya alami.
Sekali lagi, saya bersyukur. saya berada di lingkungan orang-orang yang mempunyai
keahlian, dan dari mereka saya belajar untuk terus mengasah keahlian saya sendiri.
Dan hari ini, saya ingin membaginya dengan teman-teman. Mencoba merenung, menemukan
kembali “KEAHLIAN” yang pernah teman-teman punya. Menjadikannya sebagai sandaran hidup.
Karena KEAHLIAN datangnya dari Allah. Bersyukurlah…sekecil apapun itu.
Sehingga ketika kita sudah menemukan keahlian kita, kita tidak perlu lagi was-was kalau
ijasah kita akan hilang
, karena ijasah bukan diri kita, ijasah adalah sebuah kertas.
pagi yang indah,
aldila